Senin, 15 Agustus 2016

Gagal Paham PV Shooting Star ALICE NINE (A9)



Drabble fanfic A9 / Angst atau Parody /  Boys Love / Rate: T / Warning: sedikit beribet dibaca maklum yang menulis agak ribet otaknya dikejar deadline dan pas melihat PV Shooting Star ini yang terpikirkan. Silakan monggo dibaca...

#Bag Shou
Seorang pemuda bercelana legging bermotif tampak tidak sabaran dan gelisah. Sesekali melongok keluar jendela apartemennya. Sambil bersenandung dan duduk di sofa ruang tamu ia tampak berfikir dan memandang ke depan. Bibirnya yang tidak terkatup (please jangan arak MoCha keliling kampung, kan memang giginya Shou itu ‘something’ bangetkan dulu, kalau teman MoCha pas main volly mingkem bolanya akan jatuh) itu menggumamkan kata-kata.
“Hiroto... Sudahkah kau terima suratku?”

#Bag Hiroto
Malam itu Hiroto berniat berbelanja sekaligus membeli makanan dan shampo untuk Mogu,  anjing lucu kepunyaannya. Berjalan dengan langkah pasti walau sebenarnya dalam hati sedang galau. Hiroto duduk di tepi genkan rumahnya, mengamit sepatu hitam dan memakainya. Berdiri sembari meraih kunci, kunci mobil dan rumahnya.
Setelah memastikan pintu rumahnya terkunci, Hiroto berhenti. Ia mendapati sebuah surat di kotak di kotak surat (ya iyalah). Tanpa nama? Hiroto memutuskan untuk membacanya sambil berjalan ke tempat parkir.

#Bag Tora
Berjalan dengan sebuah tujuan itulah yang sedang di lakukannya. Tora, makhluk indah berlips-pierching itu menapaki trotoar. Berhenti dan memandang sebuah toko bunga seakan memastikan apa yang dicarinya ada. Kemudian ia masuk, melihat-lihat, dan meraih setangkai carnation putih. Menghirup wangi bunga yang tampak cantik bersanding dengan wajah indahnya.

#Bag Saga
Suara i-phone yang berdering memaksakan Saga menghentikan jemarinya bermain bass.  Pria manis itu sedang melakukan rekaman sendiri. Diangkatnya telepon itu.
“Iya moshi-moshi?!” sapanya kepada suara diseberang telepon.
“Iya aku akan segera selesai, tunggu sebentar lagi.. Hmm  iya baikah, bye..”
Kemudian pria berbaju serba putih itu kembali menekuni kegiatannya. Walau ternyata memang butuh waktu untuk melengkapi rekamannya. Saga tak menyadari jika ponselnya berdering lagi. Saga baru menyadarinya setelah pekerjaannya usai jika ternyata sudah lewat dari jam pulang yang ia janjikan.
“Aduh harus cepat, kalau tidak....” gumam si bassist cantik itu sebelum berlari keluar studio.
Saga berlari dan terus berlari tanpa memperhatikan jalan hingga menabraki beberapa pejalan kaki yang lain. Namun nyatanya ia memang telah terlambat untuk ke stasiun. Saga tidak menemukan yang dicarinya. Sembari menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menghela napas, Saga bergumam kepada diri sendiri.
“Gawat utkang jualan cemilannya sudah tutup. Aaah aku harus bagaimana?”
Wajahnya menjadi horor memikirkan perkataan kekasihnya di sms.

#Bag Nao
Si imut Nao duduk di sofa apartemennya sambil tersenyum. Matanya menatap layar ponselnya, memandangi nomer yang baru saja dihubunginya. Kemudian meletakan ponselnya, mengambil frame photo di meja dekatnya, menatapnya dengan tesenyum manis. Di photo itu Saga menciumnya di pipi, photo yang mereka ambil 2 tahun lalu. Saat itu adalah ulang tahun Nao.
Si chubby itu meraih ponselnya lagi, melihat ke pesan terkirim
‘awas kalau tidak dapat!! Kamu akan jadi bottom seminggu.’
Begitu yang ia tulis, mungkin Saga sekarang sedang kebingungan. Soalnya Saga mudah sekali diancam seperti itu. Saga adalah jenis seme tak suka di-uke-in, tapi bukan berarti mereka tak pernah berganti peran untuk hal ‘itu’. Nao hanya bisa tersenyum lagi memandangi photo kekasihnya. Saga memang manis sekali.

##Bag  Tora
Melangkah keluar dari florist sembari membawa sebuket bunga berwarna merah, dia berjalan menapaki jalanan kota (pas lihat scene ini dalam hati MoCha berteriak astaga abang saya gendut banget >.< ). Berbelok setelah menempuh jarak sekian meter dan menaiki sebuah bus ke suatu tempat. Sore itu cukup sepi.
Seturunnya dari bus, kaki jenjangnya menapaki jarak yang tersisa menuju ke tempat yang ada di benaknya masih sambil menggenggam buket calendula berhias daun philadendron. Pemakaman memang terlihat sepi di sore hari bahkan hampir setiap waktu.
Diletakkannya buket bunga di hadapan sebuah batu nisan, lalu berlutut dan mengatukan kedua tangan,  berdo’a.
“Neko-chan...” ucapnya lirih setelah selesai berdo’a.
“Ternyata dia tidak menyukaiku seperti aku menyukainya...” lanjutnya dengan wajah murung. Ia menumpahkan isi hatinya kepada kucing yang ia pelihara saat masih kecil dulu.

##Bag Hiroto
Diremasnya lembaran surat di tangannya, dengan mata hampir basah ia memaksakan sebelah tangannya memacu mobilnya.
“Shou....” gumamnya dengan hati yang bercampur aduk.

##Bag Shou
Hiroto ...... sebelumnya maafkan aku.
Aku tahu ini akan  terasa aneh, tapi sungguh aku tak bisa mengendalikan diriku. Maaf sekali lagi. Hiroto aku menyukaimu, ini memang terdengar seperti candaan tapi aku benar-benar serius. Kuharap kau tidak membenciku/ menjauhiku setelah ini.  dan bila kau menerima perasaanku, datanglah ke apartemenku setelah kau ini. Sekali lagi maaf kalau aku menyukaimu. Shou
Mata makhluuk imut bergigi kelinci itu masih tampak gelisah mengingat sudah  2 hari ia mengirimkan surat tetapi belum ada jawaban. Merasa gusar ia melihat lagi keluar jendela. Menatap malam dan langit yang terang dengan sinar bintang.
‘Hiroto... apa kau akan datang..’
Matanya tiba-tiba menangkap sosok Hiroto, gitaris pirang Alice Nine itu tersenyum padanya dari balik jendela apartemennya.
“Aku juga suka kau Shou!!” jeritnya itu  melihat Shou menatapnya dari dalam  apartemen.

 Ponorogo 2016/7/13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar