Drabble
fanfic A9 / Angst atau Parody / Boys
Love / Rate: T / Warning: sedikit beribet dibaca maklum yang menulis agak ribet
otaknya dikejar deadline dan pas melihat PV Shooting Star ini yang
terpikirkan. Silakan monggo dibaca...
#Bag
Shou
Seorang pemuda bercelana legging
bermotif tampak tidak sabaran dan gelisah. Sesekali melongok keluar jendela
apartemennya. Sambil bersenandung dan duduk di sofa ruang tamu ia tampak
berfikir dan memandang ke depan. Bibirnya yang tidak terkatup (please
jangan arak MoCha keliling kampung, kan memang giginya Shou itu ‘something’
bangetkan dulu, kalau teman MoCha pas main volly mingkem bolanya akan jatuh)
itu menggumamkan kata-kata.
“Hiroto... Sudahkah kau terima
suratku?”
#Bag
Hiroto
Malam
itu Hiroto berniat berbelanja sekaligus membeli makanan dan shampo untuk Mogu, anjing lucu kepunyaannya. Berjalan dengan
langkah pasti walau sebenarnya dalam hati sedang galau. Hiroto duduk di tepi genkan
rumahnya, mengamit sepatu hitam dan memakainya. Berdiri sembari meraih kunci,
kunci mobil dan rumahnya.
Setelah
memastikan pintu rumahnya terkunci, Hiroto berhenti. Ia mendapati sebuah surat
di kotak di kotak surat (ya iyalah). Tanpa nama? Hiroto memutuskan untuk
membacanya sambil berjalan ke tempat parkir.
#Bag
Tora
Berjalan
dengan sebuah tujuan itulah yang sedang di lakukannya. Tora, makhluk indah berlips-pierching
itu menapaki trotoar. Berhenti dan memandang sebuah toko bunga seakan
memastikan apa yang dicarinya ada. Kemudian ia masuk, melihat-lihat, dan meraih
setangkai carnation putih. Menghirup wangi bunga yang tampak cantik
bersanding dengan wajah indahnya.
#Bag
Saga
Suara
i-phone yang berdering memaksakan Saga menghentikan jemarinya bermain bass. Pria manis itu sedang melakukan rekaman
sendiri. Diangkatnya telepon itu.
“Iya
moshi-moshi?!” sapanya kepada suara diseberang telepon.
“Iya
aku akan segera selesai, tunggu sebentar lagi.. Hmm iya baikah, bye..”
Kemudian
pria berbaju serba putih itu kembali menekuni kegiatannya. Walau ternyata
memang butuh waktu untuk melengkapi rekamannya. Saga tak menyadari jika
ponselnya berdering lagi. Saga baru menyadarinya setelah pekerjaannya usai jika
ternyata sudah lewat dari jam pulang yang ia janjikan.
“Aduh
harus cepat, kalau tidak....” gumam si bassist cantik itu sebelum berlari
keluar studio.
Saga
berlari dan terus berlari tanpa memperhatikan jalan hingga menabraki beberapa
pejalan kaki yang lain. Namun nyatanya ia memang telah terlambat untuk ke
stasiun. Saga tidak menemukan yang dicarinya. Sembari menyandarkan tubuhnya ke
dinding dan menghela napas, Saga bergumam kepada diri sendiri.
“Gawat
utkang jualan cemilannya sudah tutup. Aaah aku harus bagaimana?”
Wajahnya
menjadi horor memikirkan perkataan kekasihnya di sms.
#Bag
Nao
Si
imut Nao duduk di sofa apartemennya sambil tersenyum. Matanya menatap layar
ponselnya, memandangi nomer yang baru saja dihubunginya. Kemudian meletakan
ponselnya, mengambil frame photo di meja dekatnya, menatapnya dengan tesenyum
manis. Di photo itu Saga menciumnya di pipi, photo yang mereka ambil 2 tahun
lalu. Saat itu adalah ulang tahun Nao.
Si
chubby itu meraih ponselnya lagi, melihat ke pesan terkirim
‘awas
kalau tidak dapat!! Kamu akan jadi bottom seminggu.’
Begitu
yang ia tulis, mungkin Saga sekarang sedang kebingungan. Soalnya Saga mudah
sekali diancam seperti itu. Saga adalah jenis seme tak suka di-uke-in, tapi
bukan berarti mereka tak pernah berganti peran untuk hal ‘itu’. Nao hanya bisa
tersenyum lagi memandangi photo kekasihnya. Saga memang manis sekali.
##Bag
Tora
Melangkah
keluar dari florist sembari membawa sebuket bunga berwarna merah, dia berjalan
menapaki jalanan kota (pas lihat scene ini dalam hati MoCha berteriak astaga
abang saya gendut banget >.< ). Berbelok setelah menempuh jarak sekian
meter dan menaiki sebuah bus ke suatu tempat. Sore itu cukup sepi.
Seturunnya
dari bus, kaki jenjangnya menapaki jarak yang tersisa menuju ke tempat yang ada
di benaknya masih sambil menggenggam buket calendula berhias daun philadendron.
Pemakaman memang terlihat sepi di sore hari bahkan hampir setiap waktu.
Diletakkannya
buket bunga di hadapan sebuah batu nisan, lalu berlutut dan mengatukan kedua
tangan, berdo’a.
“Neko-chan...”
ucapnya lirih setelah selesai berdo’a.
“Ternyata
dia tidak menyukaiku seperti aku menyukainya...” lanjutnya dengan wajah murung.
Ia menumpahkan isi hatinya kepada kucing yang ia pelihara saat masih kecil
dulu.
##Bag
Hiroto
Diremasnya
lembaran surat di tangannya, dengan mata hampir basah ia memaksakan sebelah
tangannya memacu mobilnya.
“Shou....”
gumamnya dengan hati yang bercampur aduk.
##Bag
Shou
Hiroto
...... sebelumnya maafkan aku.
Aku
tahu ini akan terasa aneh, tapi sungguh
aku tak bisa mengendalikan diriku. Maaf sekali lagi. Hiroto aku menyukaimu, ini
memang terdengar seperti candaan tapi aku benar-benar serius. Kuharap kau tidak
membenciku/ menjauhiku setelah ini. dan
bila kau menerima perasaanku, datanglah ke apartemenku setelah kau ini. Sekali lagi
maaf kalau aku menyukaimu. Shou
Mata
makhluuk imut bergigi kelinci itu masih tampak gelisah mengingat sudah 2 hari ia mengirimkan surat tetapi belum ada
jawaban. Merasa gusar ia melihat lagi keluar jendela. Menatap malam dan langit
yang terang dengan sinar bintang.
‘Hiroto...
apa kau akan datang..’
Matanya
tiba-tiba menangkap sosok Hiroto, gitaris pirang Alice Nine itu tersenyum
padanya dari balik jendela apartemennya.
“Aku
juga suka kau Shou!!” jeritnya itu
melihat Shou menatapnya dari dalam
apartemen.
Ponorogo 2016/7/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar