Sabtu, 31 Oktober 2015

A9 in Haloween part 1



http://enchantingmoon.tumblr.com/post/64475396834/backstage-photo-of-alice-nine-at-the-live
by MoCha
Genre              : horror
Warning          : drabble, mistypo, aneh, boy x boy, creppypasta
Rate                 : T
Disclaimer       : semua hanya milik Tuhan, semua cerita hanya fiktif demi hiburan
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
CHIKIN
https://www.pinterest.com/pin/482870391271679869/
Tora POV
Kucingku terkadang menyebalkan sering menggaruk funiture dan bahkan terkadang membuat rumah berantakan. Walaupun begitu bukan berarti aku tak menyukainya. Memang aku menamainya Chikin (alias pengecut), tetapi kurasa dia memang pengecut dan penakut. Tapi kucingku itu menggemaskan sekali. Bulunya tebal, badannya yang gembul, bulunya keabu-abuan dan suaranya yang mengeong manja. Terkadang rasanya ingin meremas tubuhnya saking gemasnya. Hei kadang dengan mengelus tubuhnya juga bisa menenangkan emosiku.
Chikin ini juga selalu melindungiku dari makhluk mengerikan yang kerap datang menggangguku, yaitu kecoa. Jangan tertawa!! Ayolah apa kalian tidak merasa jijik pada makhluk berwarna coklat yang gemar bersemayam di tempat kotor itu. Makhluk-makhluk itu juga suka bersembunyi di lemari dan membuat seisi lemari menjadi bau. Oke memang tidak wajar untuk seorang pria takut pada serangga tapi setidaknya aku lebih baik daripada Nao. Dan disitulah Chikin selalu ada untuk membantuku.

Meski begitu Chikin itu tetap pengecut, sangat pengecut. Dia selalu takut pada orang-orang baru. Takut kepada kucing jantan lainnya hingga jarang bermain di luar. Bahkan takut dengan air, jangan tanyakan betapa sulitnya memandikan bola bulu satu ini. Aku lebih memilih memandikannya di petshop daripada harus memandikannya sendiri. Bayangkan saja apa yang terjadi saat aku memandikannyan sendiri.
Hingga pada suatu malam aku menyadari sesuatu. Hari itu aku aku baru saja selesai photoshot, latihan dan on air. Ditambah aku baru saja pindah kesini kemarin, gara-gara beberapa stalker mengetahui tempat tinggalku yang sebelumnya. Belum lagi kerumunan di kereta saat pulang yang penuh membuatku semakin tidak nyaman dan lelah. Selesai mandi aku langsung terbaring di kasurku melepas penat, lagipula ini sudah jam 12 malam. Sesaat aku hampir tertidur kudengar garukan-garukan pelan dari luar pintu kamarku. Kurasa itu Chikin yang mau ikut masuk. Biarlah aku sudah terlalu lelah, kurasa dia bisa tidur di kardus barang yang belum sempat kubongkar. Memang aku sepertinya tega sekali tapi begitulah aku.
Tetapi lama kelamaan bunyi garukan itu tidak kunjung berhenti dan membuatku kesal. Hingga dengan sebal ku tendang selimut dan mendudukkan diriku di kasur. Kulihat ke arah pintu kamarku yang terkunci. Betapa terkejutnya aku si kucing abu-abu itu sedang membungkung dengan posisi siaga. Ekornya menjulur ke atas dengan bulu-bulunya yang berdiri, tanda bahwa ia sedang waspada atau ketakutan. Chikin mendesis pelan ke arah pintu. Namun ia meloncat ke arahku lalu melingkar ketakutan saat suara garukan itu bertambah keras. Tetapi bukan itu saja, suara ketukan pintu yang keras juga mulai terdengar disertai suara erangan. Entah apapun itu, aku hanya merasa sebaiknya tetap ada di tempatku dan tidak membuka pintu. Walaupun rasa penasaran apakah itu stalker juga atau teman-temanku yang sedang usil atau sesuatu yang lain? Tapi bagaimana mereka masuk? Entahlah, aku hanya bisa meringkuk bersama kucingku di atas tempat tidurku. Sementara suara itu tambah menjadi dan juga aku mulai mencium aroma busuk yang membuatku makin ketakutan. Suara itu baru hilang mungkin sejam atau dua jam kemudian tetapi aku tak ingin beranjak. Mungkin aku sekarang sama pengecutnya dengan Chikin.
Keesokan harinya, aku terbangun ketika matahari sudah cukup tinggi. Kulihat jam di ponselku sudah menunjukkan 8.47 am. Chikin sudah bangun dan duduk di meja dekat jendela yang menyuplai sinar matahari ke dalam kamar baruku yang masih berantakan, menjilati bulunya. Aku hampir lupa kejadian aneh semalam kalau saja aku tidak melihatnya. Pintu kamarku  bagian luar tampak bekas goresan binatang yang besar, mungkin sebesar bekas kuku beruang. Tetapi yang lebih membuatku kaget lagi, terdapat jejak lumpur aneh di lantai dan bagian luar pintu kamarku yang berbau busuk. Kurasa aku memang sama pengecutnya dengan Chikin, tapi setidaknya aku selamat.
http://orig15.deviantart.net/1490/f/2008/048/c/5/werewolf_by_jlonewolf.jpg

End.

#          #          #
#          #          #
#          #          #
#          #          #


Gemini
Seorang pria berwajah manis dengan rambut pirang sedang menyusuri lorong rumah sakit. Dia sedang menunggu untuk gilirannya check-up tahunan. Hari itu dia pergi ke rumah sakit dengan dua orang bandmatenya. Tetapi bukannya bisa mengobrol sambil menunggu giliranya, ia malah sendirian sekarang. Hiroto sedang sibuk entah melakukan apa di ruang tunggu dengan seorang gadis yang baru saja ia kenali. Sementara Nao, ia sedang check-up dan itu memerlukan waktu lama. Sebab Nao selalu takut dengan namanya disuntik bahkan baru melihat dokternya saja ia sudah terlihat grogi.
Sehingga disinilah Shou berjalan-jalan di sekitar rumah sakit dan menikmati keadaan rumah sakit di sore hari. Cukup lama ia berjalan-jalan hingga ke kawasan  poliklinik. Keadaan di sekitar poliklinik sudah cukup lengang jam-jam segini. Shou berhenti berjalan ketika mendapati dua anak kecil, kira-kira usia lima tahunan yang sedang menangis di pinggir lorong.
“Hei, kenapa kalian menangis?” tanya Shou pelan sambil menepuk pelan bahu salah satu gadis kecil itu.
“Hiks.. hiks.. aku... kami... hiks...” jawab gadis kecil berbaju merah muda itu sesenggukan.
“Iya kenapa katakan pada kakak? Siapa tahu kakak bisa menolong?” pinta Shou lembut.
“Hikss... kami.. hiks... hilang.. hiks...” jawab satunya yang berbaju ungu dan berwajah mirip dengan gadis pertama. Mereka kembar.
“uang jajan..nya ..hikss... hilaaang.... hueee...” sambung si baju merah muda menangis lagi.
“Oh begitu? Ngomong-ngomong orang tua kalian dimana?” tanggap Shou kepada kedua kembar cilik itu.
“Be... hikss.. beli... obat.. hiksss.. di apotik....” kata si baju ungu.
“Uhmm... sudah jangan nangis lagi. Kakak belikan jajan dan antar kalian apotik.” Kata Shou membuat kedua gadis kecil itu berhenti menangis. Shou pun tersenyum melihat kilatan gembira di mata mereka.



“Nah namamu siapa? Aku Shou.” tanya Shou kepada anak-anak itu.
“Aku Mei nii-chan.” Sahut si baju merah muda sambil memakan es krim dengan senang.
“Aku Misa. Terima kasih es krimnya.” Kata si kembar yang berbaju ungu.
“Iya sama-sama.” Kata Shou merasa senang melihat keduanya terlihat gembira. Sesekali mereka mencoba mencicipi eskrim satu amalain.Shou jadi ingat masa-masa kecilnya yang menyenangkan tidak seperti sekarang. Selalu bekerja, bekerja, bekerja lagi. Bukan Shou tidak senang, tentu ia sangat bahagia bisa mewujudkan impiannya bersama sahabat-sahabatnya di Alice Nine.Ia hanya ingin mendapat liburan sesekali dan berkumpul dengan keluarga dan sahabat.
“Mana orang tua kalian?” tanya Shou setelah mereka sampai di apotik.
“Itu ibu.” Jawab si Mei sambil duduk di satu kursi depan apotik.
“Ibuuuu...” kata Misa sambil menghambur ke ibunya yang baru selesai membayar di kasir.
“Iya Misaa? Kau lama sekali beli eskrimnya? Bukannya tokonya hanya di dekat belokan?” tanya si ibu .
“Tadi uangnya hilang terus di belikan oleh kakak itu.” Kata Mei sambil menunjuk Shou yang tersenyum kepada si ibu.
“Terima kasih banyak. Oh ya tadi habis berapa belinya?” tanya si ibu menghampiri Shou.
“Ah tidak usah nyonya. Aku hanya khawatir melihat ada anak menangis tanpa ada orang dewasa tadi.”  Jelas Shou.
“Ah iya, biasanya aku ke rumah sakit dengan  suamiku. Tetapi ia sedang lembur hari ini jadi tidak bisa mengantar Misa dan aku.” Jawab si ibu.
“Memangnya Misa sakit apa?” tanya Shou yang langsung diam menutup mulutnya merasa keceplosan. Pasalnya si ibu tampak murung.
“Misa mengalami gangguan psikologi.” Jawab si ibu sedih.
“Benarkah? Tapi kurasa Misa tidak seperti orang yang....” kata  Shou yang merasa Misa baik-baik saja tak seperti orang gangguan jiwa.
“Bagaimana ia tampak normal... Lihatlah keadaannya  hikss...” si ibu mulai duduk dan terisak. Shou menjadi menepuk-nepuk pundak si ibu prihatin. Shou menengok lagi dilihatnya kedua gadis kembar itu duduk dan bercanda ria di kursi ruang tunggu.
“Maaf...” kata Shou merasa bersalah walau juga penasaran.
“Hikkss.. dia.. Misa... selalu berpikir kalau saudaranya masih hidup...” jelas si ibu.
“Maksud anda?” tanya Shou penasaran dan ikut duduk mendengarkan cerita si ibu.
“Dia punya saudara kembar.. hikss namanya Mei.. hikss.. meninggal setahun yang lalu,,, kecelakaan... tapi Misa selalu berbicara.. hiks.. seolah Mei masih hidup dan selalu bersamanya...” jelas si ibu.
Shou hanya bisa membulatkan matanya menatap Mei dan Misa yang bermain bersama. Sesekali tersenyum ke arah Shou. Mereka si kembar tampak sangat hidup kecuali satu hal yang tak disadari Shou sejak tadi. Mei tidak memiliki bayangan. Satu hal yang dipikiran Shou saat itu, haruskah ia check-up ke dokter psikolog nanti?




Ada yang sisa 3 member yang lain sebenarnya. tapi maunya melihat respon dulu..
Give me review please???? ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar