by MoCha
Genre : horror
Warning : drabble, mistypo, aneh, boy x boy, creppypasta
Rate : T
Disclaimer : semua hanya milik Tuhan, semua cerita
hanya fiktif demi hiburan
=
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
= = = = =
CHIKIN
Tora POV
Kucingku terkadang
menyebalkan sering menggaruk funiture dan bahkan terkadang membuat rumah
berantakan. Walaupun begitu bukan berarti aku tak menyukainya. Memang aku
menamainya Chikin (alias pengecut), tetapi kurasa dia memang pengecut dan
penakut. Tapi kucingku itu menggemaskan sekali. Bulunya tebal, badannya yang
gembul, bulunya keabu-abuan dan suaranya yang mengeong manja. Terkadang rasanya
ingin meremas tubuhnya saking gemasnya. Hei kadang dengan mengelus tubuhnya
juga bisa menenangkan emosiku.
Chikin ini juga selalu
melindungiku dari makhluk mengerikan yang kerap datang menggangguku, yaitu
kecoa. Jangan tertawa!! Ayolah apa kalian tidak merasa jijik pada makhluk
berwarna coklat yang gemar bersemayam di tempat kotor itu. Makhluk-makhluk itu
juga suka bersembunyi di lemari dan membuat seisi lemari menjadi bau. Oke
memang tidak wajar untuk seorang pria takut pada serangga tapi setidaknya aku
lebih baik daripada Nao. Dan disitulah Chikin selalu ada untuk membantuku.
Meski begitu Chikin itu
tetap pengecut, sangat pengecut. Dia selalu takut pada orang-orang baru. Takut
kepada kucing jantan lainnya hingga jarang bermain di luar. Bahkan takut dengan
air, jangan tanyakan betapa sulitnya memandikan bola bulu satu ini. Aku lebih
memilih memandikannya di petshop daripada harus memandikannya sendiri.
Bayangkan saja apa yang terjadi saat aku memandikannyan sendiri.
Hingga pada suatu malam aku
menyadari sesuatu. Hari itu aku aku baru saja selesai photoshot, latihan dan on
air. Ditambah aku baru saja pindah kesini kemarin, gara-gara beberapa stalker
mengetahui tempat tinggalku yang sebelumnya. Belum lagi kerumunan di kereta
saat pulang yang penuh membuatku semakin tidak nyaman dan lelah. Selesai mandi
aku langsung terbaring di kasurku melepas penat, lagipula ini sudah jam 12
malam. Sesaat aku hampir tertidur kudengar garukan-garukan pelan dari luar pintu
kamarku. Kurasa itu Chikin yang mau ikut masuk. Biarlah aku sudah terlalu
lelah, kurasa dia bisa tidur di kardus barang yang belum sempat kubongkar.
Memang aku sepertinya tega sekali tapi begitulah aku.
Tetapi lama kelamaan bunyi
garukan itu tidak kunjung berhenti dan membuatku kesal. Hingga dengan sebal ku
tendang selimut dan mendudukkan diriku di kasur. Kulihat ke arah pintu kamarku
yang terkunci. Betapa terkejutnya aku si kucing abu-abu itu sedang membungkung
dengan posisi siaga. Ekornya menjulur ke atas dengan bulu-bulunya yang berdiri,
tanda bahwa ia sedang waspada atau ketakutan. Chikin mendesis pelan ke arah
pintu. Namun ia meloncat ke arahku lalu melingkar ketakutan saat suara garukan
itu bertambah keras. Tetapi bukan itu saja, suara ketukan pintu yang keras juga
mulai terdengar disertai suara erangan. Entah apapun itu, aku hanya merasa
sebaiknya tetap ada di tempatku dan tidak membuka pintu. Walaupun rasa penasaran
apakah itu stalker juga atau teman-temanku yang sedang usil atau sesuatu yang
lain? Tapi bagaimana mereka masuk? Entahlah, aku hanya bisa meringkuk bersama
kucingku di atas tempat tidurku. Sementara suara itu tambah menjadi dan juga
aku mulai mencium aroma busuk yang membuatku makin ketakutan. Suara itu baru
hilang mungkin sejam atau dua jam kemudian tetapi aku tak ingin beranjak.
Mungkin aku sekarang sama pengecutnya dengan Chikin.
Keesokan harinya, aku
terbangun ketika matahari sudah cukup tinggi. Kulihat jam di ponselku sudah
menunjukkan 8.47 am. Chikin sudah bangun dan duduk di meja dekat jendela yang
menyuplai sinar matahari ke dalam kamar baruku yang masih berantakan, menjilati
bulunya. Aku hampir lupa kejadian aneh semalam kalau saja aku tidak melihatnya.
Pintu kamarku bagian luar tampak bekas
goresan binatang yang besar, mungkin sebesar bekas kuku beruang. Tetapi yang
lebih membuatku kaget lagi, terdapat jejak lumpur aneh di lantai dan bagian
luar pintu kamarku yang berbau busuk. Kurasa aku memang sama pengecutnya dengan
Chikin, tapi setidaknya aku selamat.
End.
# # #
# # #
# # #
# # #
Gemini
Seorang pria berwajah manis
dengan rambut pirang sedang menyusuri lorong rumah sakit. Dia sedang menunggu
untuk gilirannya check-up tahunan. Hari itu dia pergi ke rumah sakit dengan dua
orang bandmatenya. Tetapi bukannya bisa mengobrol sambil menunggu giliranya, ia
malah sendirian sekarang. Hiroto sedang sibuk entah melakukan apa di ruang
tunggu dengan seorang gadis yang baru saja ia kenali. Sementara Nao, ia sedang
check-up dan itu memerlukan waktu lama. Sebab Nao selalu takut dengan namanya
disuntik bahkan baru melihat dokternya saja ia sudah terlihat grogi.
Sehingga disinilah Shou
berjalan-jalan di sekitar rumah sakit dan menikmati keadaan rumah sakit di sore
hari. Cukup lama ia berjalan-jalan hingga ke kawasan poliklinik. Keadaan di sekitar poliklinik
sudah cukup lengang jam-jam segini. Shou berhenti berjalan ketika mendapati dua
anak kecil, kira-kira usia lima tahunan yang sedang menangis di pinggir lorong.
“Hei, kenapa kalian
menangis?” tanya Shou pelan sambil menepuk pelan bahu salah satu gadis kecil
itu.
“Hiks.. hiks.. aku...
kami... hiks...” jawab gadis kecil berbaju merah muda itu sesenggukan.
“Iya kenapa katakan pada
kakak? Siapa tahu kakak bisa menolong?” pinta Shou lembut.
“Hikss... kami.. hiks... hilang..
hiks...” jawab satunya yang berbaju ungu dan berwajah mirip dengan gadis
pertama. Mereka kembar.
“uang jajan..nya ..hikss...
hilaaang.... hueee...” sambung si baju merah muda menangis lagi.
“Oh begitu? Ngomong-ngomong
orang tua kalian dimana?” tanggap Shou kepada kedua kembar cilik itu.
“Be... hikss.. beli...
obat.. hiksss.. di apotik....” kata si baju ungu.
“Uhmm... sudah jangan nangis
lagi. Kakak belikan jajan dan antar kalian apotik.” Kata Shou membuat kedua
gadis kecil itu berhenti menangis. Shou pun tersenyum melihat kilatan gembira
di mata mereka.
“Nah namamu siapa? Aku
Shou.” tanya Shou kepada anak-anak itu.
“Aku Mei nii-chan.” Sahut si
baju merah muda sambil memakan es krim dengan senang.
“Aku Misa. Terima kasih es
krimnya.” Kata si kembar yang berbaju ungu.
“Iya sama-sama.” Kata Shou
merasa senang melihat keduanya terlihat gembira. Sesekali mereka mencoba
mencicipi eskrim satu amalain.Shou jadi ingat masa-masa kecilnya yang
menyenangkan tidak seperti sekarang. Selalu bekerja, bekerja, bekerja lagi.
Bukan Shou tidak senang, tentu ia sangat bahagia bisa mewujudkan impiannya
bersama sahabat-sahabatnya di Alice Nine.Ia hanya ingin mendapat liburan
sesekali dan berkumpul dengan keluarga dan sahabat.
“Mana orang tua kalian?”
tanya Shou setelah mereka sampai di apotik.
“Itu ibu.” Jawab si Mei
sambil duduk di satu kursi depan apotik.
“Ibuuuu...” kata Misa sambil
menghambur ke ibunya yang baru selesai membayar di kasir.
“Iya Misaa? Kau lama sekali
beli eskrimnya? Bukannya tokonya hanya di dekat belokan?” tanya si ibu .
“Tadi uangnya hilang terus
di belikan oleh kakak itu.” Kata Mei sambil menunjuk Shou yang tersenyum kepada
si ibu.
“Terima kasih banyak. Oh ya
tadi habis berapa belinya?” tanya si ibu menghampiri Shou.
“Ah tidak usah nyonya. Aku
hanya khawatir melihat ada anak menangis tanpa ada orang dewasa tadi.” Jelas Shou.
“Ah iya, biasanya aku ke
rumah sakit dengan suamiku. Tetapi ia
sedang lembur hari ini jadi tidak bisa mengantar Misa dan aku.” Jawab si ibu.
“Memangnya Misa sakit apa?”
tanya Shou yang langsung diam menutup mulutnya merasa keceplosan. Pasalnya si
ibu tampak murung.
“Misa mengalami gangguan
psikologi.” Jawab si ibu sedih.
“Benarkah? Tapi kurasa Misa
tidak seperti orang yang....” kata Shou yang
merasa Misa baik-baik saja tak seperti orang gangguan jiwa.
“Bagaimana ia tampak
normal... Lihatlah keadaannya hikss...”
si ibu mulai duduk dan terisak. Shou menjadi menepuk-nepuk pundak si ibu
prihatin. Shou menengok lagi dilihatnya kedua gadis kembar itu duduk dan
bercanda ria di kursi ruang tunggu.
“Maaf...” kata Shou merasa
bersalah walau juga penasaran.
“Hikkss.. dia.. Misa...
selalu berpikir kalau saudaranya masih hidup...” jelas si ibu.
“Maksud anda?” tanya Shou
penasaran dan ikut duduk mendengarkan cerita si ibu.
“Dia punya saudara kembar..
hikss namanya Mei.. hikss.. meninggal setahun yang lalu,,, kecelakaan... tapi
Misa selalu berbicara.. hiks.. seolah Mei masih hidup dan selalu bersamanya...”
jelas si ibu.
Shou hanya bisa membulatkan
matanya menatap Mei dan Misa yang bermain bersama. Sesekali tersenyum ke arah
Shou. Mereka si kembar tampak sangat hidup kecuali satu hal yang tak disadari
Shou sejak tadi. Mei tidak memiliki bayangan. Satu hal yang dipikiran Shou saat
itu, haruskah ia check-up ke dokter psikolog nanti?
Ada yang sisa 3 member yang lain sebenarnya. tapi maunya melihat respon dulu..
Give me review please???? ^_^




Tidak ada komentar:
Posting Komentar